- by Redaksi 2
- 30 Desember 2025
Libur Sekolah, Amrulloh Tekuni Budidaya Ikan Gurame
Depok, WartaKarya - Bagi sebagian orang, libur sekolah identik dengan waktu istirahat atau berlibur bersama keluarga. Namun tidak demikian bagi Amrulloh. Guru kelas VI SDN Duren Seribu 01 ini justru memanfaatkan masa libur semester ganjil 2025 untuk kembali menekuni aktivitas lama yang telah menjadi bagian hidupnya sejak kecil: budidaya ikan gurame.
Di empang miliknya yang berada di RT 05/08, Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Amrulloh tampak sibuk memberi pakan ikan gurame pada Selasa (30/12/2025). Tangannya cekatan menebar pakan, seolah menegaskan bahwa dunia empang bukanlah hal baru baginya.
Sejak usia sekitar 10 tahun, Amrulloh telah akrab dengan budidaya ikan air tawar. Ia mengaku belajar langsung dari orang tuanya, termasuk teknik penyuntikan indukan ikan. Kebiasaan tersebut terus dijalani hingga dewasa, bahkan ketika ia telah berprofesi sebagai guru sekolah dasar.
“Kalau tidak ke sekolah saat libur seperti sekarang ini, saya turun langsung mengurus empang, mulai dari memberi pakan sampai memantau pertumbuhan ikan,” ujar Amrulloh.
Dalam kesehariannya sebagai guru, pengelolaan empang biasanya diserahkan kepada asisten. Namun saat libur sekolah, ia memilih terjun langsung. Menurutnya, merawat ikan gurame sudah menjadi rutinitas yang melekat dan sulit ditinggalkan.
Amrulloh menjelaskan, pembibitan ikan gurame soang membutuhkan ketelatenan, terutama pada fase awal penetasan. Ikan yang baru menetas diberi pakan berupa cacing sutera hingga berukuran sekitar 3 sentimeter atau berusia kurang lebih satu bulan. “Cacing sutera ini pakan utama sejak menetas sampai ukuran jual sekitar 3 sentimeter,” jelasnya.
Bibit ikan gurame soang ukuran tersebut dijual dengan harga sekitar Rp500 per ekor. Dalam satu kali pemijahan, satu indukan dapat menghasilkan 3.000 hingga 5.000 butir telur. Jika kondisi lingkungan mendukung, tingkat kematian relatif rendah.
Kendala biasanya muncul saat terjadi banjir di sekitar empang, yang menyebabkan pakan alami sulit diperoleh. “Kalau kondisi air terganggu, itu bisa mempengaruhi pembibitan,” tambahnya.
Dari hasil budidaya tersebut, Amrulloh mengaku bersyukur karena mampu menambah penghasilan keluarga. Panen bibit ikan pun tidak hanya dilakukan sebulan sekali, melainkan beberapa kali dalam sebulan, mengingat jumlah indukan gurame yang cukup banyak.
Ia merawat enam empang peninggalan orang tuanya, masing-masing berukuran sekitar 4 x 10 meter, yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi. Empang-empang tersebut telah menjadi sumber penghidupan keluarga sejak ia kecil, jauh sebelum dirinya menjadi seorang guru. “Empang ini kami pertahankan sampai sekarang karena menjadi bagian dari kehidupan kami,” tutup Amrulloh.
Melalui kegiatan sederhana ini, Amrulloh membuktikan bahwa masa libur sekolah dapat dimanfaatkan secara produktif, sekaligus menjaga warisan keluarga dan mengajarkan nilai kerja keras—baik di ruang kelas maupun di tepi empang. **(Dib)
