- by Redaksi 2
- 30 September 2026
Ketika Pengabdian Menyala, Dayu Menitipkan Harapan bagi Peternak Brebes
Brebes, WartaKarya - Di tengah riuh Grand Final Anugerah ASN Teladan Kabupaten Brebes 2026, sebuah gagasan sederhana membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar persaingan meraih penghargaan.
Gagasan itu bernama Rantai Emas.
Di balik nama tersebut, tersimpan harapan seorang aparatur sipil negara untuk menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Bukan sekadar inovasi yang berhenti di atas kertas, melainkan ikhtiar agar pengabdian memiliki arti bagi mereka yang setiap hari menggantungkan kehidupan dari sektor peternakan.
Sosok itu adalah Dayu Linggalana, S.Pt., M.Pt., yang mewakili Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Brebes dalam Grand Final Anugerah ASN Teladan Kabupaten Brebes Tahun 2026 di Aula Lantai 5 Kantor Pemerintahan Terpadu (KPT) Brebes, Selasa (29/9/2026).
Bagi Dayu, berada di panggung ASN Teladan bukan semata-mata tentang predikat. Ada sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana seorang aparatur negara mampu mengubah jabatan dan kompetensinya menjadi jalan bagi kemanfaatan masyarakat.
“Melalui inovasi Rantai Emas, kami membangun bukan hanya untuk mencari predikat ASN Teladan, melainkan untuk menyalakan harapan buat hati para peternak yang ada di Kabupaten Brebes,” ungkap Dayu.
Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana Dayu memaknai pengabdian. Baginya, penghargaan hanyalah satu bagian dari perjalanan. Yang lebih utama adalah memastikan setiap gagasan memiliki jejak manfaat bagi masyarakat.
Sebab, di balik angka produksi, program pemerintah, dan berbagai kebijakan sektor peternakan, terdapat kehidupan para peternak yang membutuhkan kepastian, pendampingan, serta optimisme untuk terus bertahan dan berkembang.
Di situlah Rantai Emas ditempatkan.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Dayu untuk mendorong kemajuan sektor peternakan sekaligus membangun keyakinan bahwa masa depan peternak Brebes dapat tumbuh lebih baik melalui kolaborasi dan keberanian berinovasi.
Bagi Dayu, seorang ASN tidak cukup hanya menyelesaikan pekerjaan berdasarkan tugas pokok dan fungsi. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan kehadiran pemerintah benar-benar terasa di tengah masyarakat.
Ia kemudian mengingat sebuah falsafah Jawa yang sederhana, tetapi sarat makna: Urip iku urup.
Hidup adalah tentang menjadi cahaya. Menyala, lalu menerangi kehidupan di sekelilingnya.
“Bagi saya, esensi tertinggi dari seorang aparatur negara adalah seperti falsafah kuno yang berbunyi Urip iku urup, bahwa hidup dan jabatan kita hendaknya terus menyala memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Falsafah itu seakan menjadi napas dari gagasan yang dibawanya ke panggung Anugerah ASN Teladan.
Dayu tidak ingin inovasi hanya menjadi simbol kreativitas seorang aparatur. Ia ingin Rantai Emas menjadi penghubung antara kompetensi ASN, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah pengabdian bukan hanya diukur dari seberapa banyak penghargaan yang diperoleh, tetapi dari seberapa jauh manfaatnya mampu menyentuh kehidupan masyarakat.
Dari Panggung Penghargaan ke Ruang Pengabdian
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes, Dr. Tahroni, M.Pd., saat membuka Grand Final Anugerah ASN Teladan 2026.
Ia mengingatkan bahwa keteladanan ASN harus berangkat dari nilai dasar BerAKHLAK. Nilai tersebut tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku dan kinerja sehari-hari.
“Kita memiliki Core Values ASN yaitu BerAKHLAK. Para kandidat ASN Teladan saat ini harus memahami betul bahwa ‘roh’ dari ASN adalah BerAKHLAK—mulai dari Berorientasi Pelayanan hingga Kolaboratif bersama pemerintah,” ujarnya.
Menurut Tahroni, ASN harus memiliki kompetensi, integritas, dedikasi, serta disiplin yang tinggi. Keteladanan juga tercermin dari kemampuan menjalankan tugas sesuai tupoksi sekaligus menghasilkan kinerja yang memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.
Harapan itu tidak lepas dari posisi masyarakat sebagai penerima manfaat utama pelayanan pemerintahan.
Masyarakat, kata dia, menaruh harapan terhadap pelayanan publik yang mudah, cepat, ramah, serta memberikan kepastian. Karena itu, ASN dituntut mampu menghadirkan wajah pemerintahan yang dekat sekaligus dapat dipercaya.
“Kepada para peserta, tunjukkan pengalaman, inovasi dan hasil kerja yang selama ini sudah dilakukan. Sampaikan dengan jujur apa yang menjadi kekuatan dan pembelajaran dalam menjalankan tugas,” pesannya.
Di ruang yang sama, sembilan ASN terbaik dari berbagai jenjang jabatan beradu gagasan dan pengalaman. Mereka telah melewati tahapan seleksi sebelumnya dan berhak tampil pada babak grand final.
Kepala BKPSDMD Kabupaten Brebes, M. Syamsul Haris, menjelaskan peserta terbagi dalam tiga kategori. Masing-masing terdiri atas tiga peserta, yakni kategori Jabatan Pelaksana/Jabatan Fungsional Keterampilan/Jabatan Fungsional Ahli Pertama; Jabatan Pengawas/Jabatan Fungsional Ahli Muda; serta Jabatan Administrator/Jabatan Fungsional Ahli Madya.
Sembilan nama itu datang membawa cerita pengabdian masing-masing.
Namun, di antara beragam gagasan tersebut, Rantai Emas menjadi salah satu cermin bahwa inovasi ASN dapat tumbuh dari kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menyalakan Masa Depan
Pada akhirnya, panggung Anugerah ASN Teladan bukan sekadar tempat untuk mencari siapa yang paling menonjol.
Lebih dari itu, panggung tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana seorang ASN memaknai profesinya.
Bagi Dayu, pengabdian adalah tentang keberanian menyalakan sesuatu yang mungkin belum terlihat hasilnya hari ini, tetapi dapat menjadi harapan bagi kehidupan orang lain di kemudian hari.
Rantai Emas menjadi simbol dari keyakinan itu.
Ia berharap inovasi tersebut dapat ikut mendorong kemajuan sektor peternakan, menumbuhkan optimisme, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi para peternak Kabupaten Brebes.
Sebab ketika sebuah inovasi lahir dari kepedulian, ia tidak berhenti sebagai gagasan.
Ia dapat menjadi jembatan.
Dan ketika seorang aparatur memilih untuk terus menyala, manfaatnya diharapkan tidak hanya kembali kepada dirinya, tetapi menerangi masyarakat yang dilayaninya.
“Melalui Rantai Emas, mari kita nyalakan masa depan peternak Kabupaten Brebes bersama-sama,” pungkas Dayu. **(Ryan)

